Ong Kee Kan goes to Curug Lawe

Di sabtu pagi yang cerah, mumpung anak-anak kosan sedang free, cabut lah kita ke salah satu destinasi wisata alam yang ada di daerah semarang selatan alias gunung pati. Yap, CURUG LAWE, tidak banyak orang tahu keberadaan salah satu curug atau air terjun yang mempesona ini. Sebenarnya curug lawe sendiri tidak begitu jauh dari semarang kota. mungkin sekitar 30 menit. Jalur yang kita tempuh adalah lewat UNNES (gunung pati) menggunakan sebuah mobil. Dengan modal searching di internet dan tanya sana-sini akhirnya sampailah kita ke perkebunan cengkeh kalisidi.

Ong Kee Kan Family, walaupun tidak utuh, terdiri dari saya, Febong, Mbak Beat, Kak Roos, dan Geby melaju pagi-pagi sekali. sekitar pukul 6 pagi kita sudah jalan. Mbak Beat dengan semangat ’45 tampak sangat antusias, tak henti-hentinya bernyanyi sepanjang jalan menuju perkebunan cengkeh. Setelah perjalanan kurang lebih 30′ menit dari kosan kami di daerah jatingaleh, sampailah kita di perkebunan cengkeh kalisidi, Gunung Pati. Masih sepi, hanya tampak beberapa pekerja yang sudah memulai pekerjaannya.

CURUG LAWE

Well, Perjalanan yang sebenarnya baru saja dimulai. Perjalanan menuju curug tidaklah semudah yang kami bayangkan. Minim nya rambu atau tanda membuat kami nyaris frustasi. Dengan medan tanah terjal, bebatuan, akar pohon dan medan yang naik turun menyeberangi sungai kecil. Sebenarnya perjalanannya cukup menyenangkan buat saya, udara yang masih segar, hangat sinar mentari, suara serangga, burung dan air sungai yang mengiringi kami sepanjang perjalanan. Di pertengahan jalan, kami menemukan percabangan ke Curug Benowo dan Curug Lawe. Tapi kami tetap fokus melanjutkan perjalanan ke CURUG LAWE.

oia, di awal perjalanan kami melewati jembatan, orang bilang seh “Jembatan Cinta”, walaupun menurut saya, tempat nya sangat tidak RECOMENDED untuk pacaran atau semacamnya.

CURUG LAWE CURUG LAWE

CURUG LAWE

30′ menit, dan tak satupun dari kami yang tahu, masih seberapa jauh lagi Curug Lawe ini. Perjalanan hampir saja berakhir di kubangan kecil tempat kami melepas lelah dan berfoto ria, hingga akhirnya kita putuskan untuk melanjutkan perjalanan yang ternyata kubangan tadi sudah sangat dekat dengan tujuan akhir kami.

— CURUG LAWE —

CURUG LAWE

CURUG LAWE

Terbayar sudah perjalanan kami, menikmati suasana alam yang masih sangat alami, meresapi alam di setiap sudutnya. Dan sangat saya sarankan, sarapan lah sebelum anda kesana, bawa minuman karena tidak ada penjual makanan atau minuman apapun di sana. Tapi sampah nya jangan dibuang disana yaa, bawa pulang please !!!

Salam dunia lebih lebar dari layar monitormu!

Kawah Putih with friends!! (part 3 – FINAL)

Well…perjalanan yang cukup jauh ke ciwidey ternyata belum menyurutkan semangat kami. Entah tercetus oleh siapa, tapi akhirnya kami meluncur makan ke DAGO sodara-sodara!!
YAP, cafe beruntung yang terpilih adalah “cafe black romantic” (entah sekarang masih eksis ato gak). Seperti hal nya tempat nongkrong anak kuliahan gahol bandung, semua harga makanan dan minuman disana lumayan terjangkau ama kantong anak kuliahan macam kita orang.

Dan seperti biasa, kegiatan selalu kita akhiri dengan acara photo session. Kurang lebih hasil nya kek dibawah ini 😀

Desca  Amarilis Gharisa Oche  , kurang lebih seperti itu, walaupun harusnya Charisa, tapi berhubung ndak ada huruf C nya, jadilah pakai sisa huruf G.

DAGO BANDUNG